makalah prestasi belajar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Generasi muda sebagai penerus cita -
cita perjuangan bangsa dan merupakan sumber insan bagi pembangunan. Jadi perlu
ditingkatkan pembinaan dan pengembangannya karena generasi muda merupakan
tanggung jawab bersama antara orang tua, keluarga,masyarakat, dan pemerintah
serta ditujukan untuk meningkatkan kualitas generasi muda. Dalam rangka
pembinaan generasi muda, banyak cara yang telah dilakukan dari kalangan pemuka
masyarakat, para guru dan pihak aparat kepolisian. Keberhasilan dari pembinaan
tersebut masih jauh dari apa yang diharapkan. Hal-tersebut terbukti dari
perilaku remaja yang besifat negatif seperti perkelahian, pencurian, cabut
sekolah, merokok dan mengkonsumsi narkoba. Hal ini dapat mengaburkan masa depan
bangsa. Untuk menanggulangi masalah remaja diperlukan berbagai pemikiran dari
berbagai sudut pandang dari masyarakat maupun pemerintah.
Menurut Soerjono : Pada umumnya
remaja melakukan kenakalannya dari keluarga broken home yang dapat mempengaruhi
perkembangan dari anak tersebut. Maksud dari kata broken home adalah kedua
orang tua masih utuh akan tetapi selalu sibuk urusan masing - masing sehingga
tugas terhadap anaknya menjadi, terabaikan. Apabila anak tidak mendapatkan
perhatian dari kedua orangtuanya, serta hubungan antara orang tua dengan anak
yang menjadi renggang tentu akan mengakibatkan anak tersebut akan kehilangan
kontrol sehingga anak dalam keluarga mulai keluar rumah dan mulai mencari
kesenangan sendiri, mulai berbohong untuk mencari perhatian orang tuanya dan
menghalalkan segala cara untuk mendapat keinginannya Kenakalan dilakukan
merupakan pelampiasan ketegangan, kerisauan di dalam hatinya sehingga remaja
merasa tidak bahagia karena dipenuhi anak tersebut malas sekolah dan tidak
konsentrasi dalam belajar sehingga prestasi menjadi menurun. Dari pemikiran
diatas dapat disimpulkan bahwabimbingan dan pengawasan orang tua sangatlah
penting terhadap pencegahan kenakalan remaja selain itu keluarga dan peranan
masyarakat juga sangat di butuhkan, hal ini yang melatar belakangi penulis
untuk menyusun karya tulis ilmiah dengan judul: “Pengaruh Kenakalan remaja Dengan
Prestasi Belajar.”
B.
Rumusan
masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di atas, maka
timbul beberapa pokok masalah dalam penulisan karya ilmiah ini, antara lain
sebagai berikut:
A.
Apa saja faktor – faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar siswa?
B.
Apa saja Faktor – faktor kenakalan
remaja?
C.
Bagaimana upaya penanggulanan
kenakalan remaja dalam mempengaruhi prestasi belajar siswa?
D.
Tujuan
A.
Untuk mengetahui Apa saja faktor –
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa.
B.
Untuk mengetahui Apa saja Faktor – faktor
kenakalan remaja.
C.
Untuk mengetahui Bagaimana
upaya penanggulanan kenakalan remaja dalam mempengaruhi prestasi belajar siswa.
BAB II
LANDASAN
TEORI
A.
Pengertian
Prestasi Belajar Siswa
Menurut Poerwadaminta dinyatakan bahwa "Prestasi
adalah hasil yang dicapai. Prestasi merupakan sesuatu yang sudah didapat atau
sesuatu yang sudah dikuasai". Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
prestasi belajar sering dinyatakan dalam bentuk angka yang menunjukkan tingkat
pemahaman seseorang mengenai bahan pelajaran yang telah dipelajari Seperti yang
dikemukakan oleh Nasution menyatakan bahwa "Prestasi belajar adalah suatu
bukti keberhasilan atau kemampuan seorang siswa dalam melalakukan kegiatan
belajarnya sesuai bobot yang dicapai. Dalam memperoleh hasil belajar yang baik
minat juga sangat menentukan seorang siswa berhasil atau tidak dalam
belajarnya. Menurut Poerbakawatja menyatakan, "Minat adalah kesediaan jiwa
yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar belajar. Tiap - tiap
pelajaran harus dapat menarik minat dari murid - murid. Minat merupakan kaedah
pokok dalam didaktif " (2003 : 182). Memilih dan menggunakan metode yang
dapat merupakan kewajiban bagi seorang guru untuk mengetahui bagaimana cara
menyusun strategi belajar mengajar yang baik sesuai dengan materi belajar yang
akan dibahasnya. Ahmadai mengatakan "Masalah mengenai bagaimana cara yang
paling baik menyajikan materi pelajaran agar dapat diterima dengan mudah dan
baik oleh siswa merupakan ruang lingkup metodologi mengajar. Seperti yang di
kemukakan oleh Nasution menyatakan bahwa " Prestasi belajar adalah suatu
bukti keberhasilan atau kemampuan seorang siswa dalam melakukan kegiatan
belajarnya sesuai bobot yang dicapai . Dalam memperoleh hasil belajar yang baik
minat juga sangat menentukan seorang siswa berhasil belajar atau tidak dalam
belajarnya. Menurut Poerbakawatja, menyatakan, " Minat adalah kesediaan
jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar belajar. Tiap-tiap
pelajaran harus dapat menarik minat dari murid- murid. Minat merupakan kaedah
pokok dalam didaktif .Memilih dan menggunakan metode yang tepat merupakan
kewajiban bagi seorang guru untuk mengetahui bagaiman cara menyusun startegi
belajar mengajar yang baik sesuai dengan materi belajar yang akan dibahasnya.
Ahmadi mengatakan, "Masalah mengenai bagaimana cara yang paling baik
menyajikan materi pelajaran agar dapat diterima dengan mudah dan baik oleh
siswa merupakan ruang lingkup metodologi mengajar Hal ini sesuai dengan
pendapat Rusyan yang mengatakan, "Menetapkan suasana belajar peserta
didik, mengoptimalkan hasil belajar, memberi contoh-contoh baik, menjelaskan
tujuan yang nyata, menginformasikan hasil-hasil dicapai peserta didik.
B.
Definisi
Remaja
Menurut Sayogyo istilah remaja berasal dari bahasa
latin yaitu adolescore yang artinya tumbuh dewasa. Secara psikologis, masa
remaja adalah usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang - orang
yang lebih tua melainkan berada dalam masalah hak. Usia remaja Asnawati
Matondang: Hubungan Kenakalan Remaja dengan Prestasi Belajar Siswa 34
berlangsung dari usia 13 tahun, akhir remaja sampai usia 17 tahun atau 18 tahun
usia matang secara hukum . Pemahaman mengenai "remaja" dikemukakan
oleh Hurlock dalam rentangan kehidupan dalam sebagai berikut:
1.
Prenatal yaitu saat konsepsi sampai
lahir
2.
Masa Neunatal yaitu lahir sampai
akhir minggu kedua sampai setelah lahir.
3.
Masa bayi yaitu akhir minggu kedua sampai tahun
kedua.
4.
Masa kanak-kanak awal yaitu dua tahun sampai
enam tahun.
5.
Masa kanak-kanak akhir yaitu enam
tahun sampai sepuluh tahun atau sepuluh
tahun atau sebelas tahun.
6.
Masa pubertas yaitu sepuluh tahun
sampai enam belas tahun.
7.
Masa remaja akhir yaitu tujuh belas
sampai dua puluh satu tahun.
8.
Masa dewasa awal yaitu dua puluh satu tahun
sampai empat puluh tahun.
9.
Masa setengah baya yaitu empat puluh satu
tahun sampai enam puluh tahun.
10. Masa tua
yaitu enam puluh sampai meninggal dunia.
Menurut Koentjaningrat "Remaja adalah usia
transisi, seorang individu telah meninggalkan usia yang lemah dan penuh
ketergantungan akan tetapi belum mampu keusia yang penuh tanggung jawab. Jika
seorang anak masih berada dalam fase-fase usia remaja kemudian melakukan pelanggaran
terhadap norma-norma agama, maka perbuatan anak tersebut digolongkan kenakalan
remaja Menurut Kartini kenakalan remaja yang dilakukan oleh remaja dan murid
disekolah lanjutan maupun mereka yang sudah putus sekolah dapat dilihat dengan
gejala:
1. Keluyuran,
pergi sendiri, maupun berkelompok tanpa tujuan dan mudah menimbulkan perbuatan
iseng yang bersifat negatif.
2. Membolos, pergi meninggalkan sekolah tanpa
sepengetahuan pihak sekolah
3. Berbohong,
memutar balikkan kenyataan dengan tujuan menipu orang ataupun menutup
kesalahan.
4. Kabur,
meninggalkan rumah tanpa izin orang tua.
5. Bergaul
dengan teman yang memberikan pengaruh buruk sehingga murah terjerat dalam
perkara yng bersifat crimi
Berdasarkan
pembatasan tersebut dapat kita lihat bahwa antara kenakalan remaja dengan
kejahatan seolah-olah tidak ada garis pemisah mana yang dikatakan kenakalan dan
mana yang disebut kejahatan. Namun menurut Mappiare secara definitif kenakalan
remaja itu diartikan semua perbuatannya melawan hukum dan bertentangan dengan
norma-norma baik norma agama adat istiadat ataupun hal-hal yang sudah menjadi
kebiasaan di dalam masyarakat.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Faktor –
Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa
Keberhasilan belajar peserta didik disekolah
dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern
adalah faktor yang ada dalam diri peserta didik dan faktor ektern adalah faktor
yang ada dari luar diri peserta didik.
a.
Faktor Intern
Dalam membicarakan faktor intern
ini, akan dibahas menjadi tiga faktor yaitu faktor jasmani, faktor psikologi
dan faktor kelelahan.
a.
Faktor Jasmani
Dalam faktor
jasmaniah yang dapat mempengaruhi siswa dalam proses belajarnya adalah
kesehatan tentang kondisi tubuhnya, kurang bersemangat ataupun cepat lelah,
selain kondisi kesehatannya keadaan jasmaniah siswa yang juga mempengaruhi
proses belajarnya adalah cacat anggota tubuh misalnya buta, tuli, patah kaki
ataupun patah tangan.
b.
Faktor psikologis
Ada beberapa
faktor yang tergolong dalam faktor psikologis. Faktor-faktor tersebut antara
lain :
1.
Intelegensi
intelegensi
atau kecakapan terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan
menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dan cepat efektif
mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui
relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
2.
Perhatian
perhatian
adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa itupun bertujuan semata-mata kepada
suatu benda atau hal atau sekumpulan obyek. Untuk menjamin belajar yang lebih
baik maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya.
Jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan,
sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa belajar dengan baik, usahakan
buku pelajaran itu sesuai dengan hobi dan bakatnya.
3.
Bakat
Menurut
Hilgard dalam Slameto bahwa bakat adalah the capacity to learn. Dengan kata
lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi
pencapaian kecakapan yang nyata sesudah belajar atau terlatih.
4.
Motif
motivasi
erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai dalam belajar, di dalam
menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai
tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah
motivasi itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya.
5.
Kematangan
kematangan
adalah sesuatu tingkah atau fase dalam pertumbuhan seseorang di mana alat-alat
tubuhnya sudah siap melaksanakan kecakapan baru.
Berdasarkan
pendapat di atas, maka kematangan adalah suatu organ atau alat tubuhnya dikatakan
sudah matang apabila dalam diri makhluk telah mencapai kesanggupan untuk
menjalankan fungsinya masing-masing kematang itu datang atau tiba waktunya
dengan sendirinya, sehingga dalam belajarnya akan lebih berhasil jika anak itu
sudah siap atau matang untuk mengkuti proses belajar mengajar.
6.
Kesiapan
Kesiapan
menurut James Drever seperti yang dikutip adalah preparedes to respon or react,
artinya kesediaan untuk memberikan respon atau reaksi.
Jadi, dari
pendapat di atas dapat diasumsikan bahwa kesiapan siswa dalam proses belajar
mengajar, sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa, dengan demikian prestasi
belajar siswa dapat berdampak positif bilamana siswa itu sendiri mempunyai
kesiapan dalam menerima suatu mata pelajaran dengan baik.
c.
Faktor Kelelahan
Ada beberapa
faktor kelelahan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan
rohani. Sebagaimana dikemukakan oleh Slameto sebagai berikut:
“Kelelahan
jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecendrungan untuk
membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena ada substansi sisa
pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah kurang lancar pada bagian tertentu.
Sedangkan kelelahan rohani dapat terus menerus karena memikirkan masalah yang
berarti tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu karena terpaksa, tidak sesuai
dengan minat dan perhatian”.
b.
Faktor Ekstern
Faktor ekstern yang berpengaruh
terhadap prestasi belajar dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu
faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.
A. Faktor keluarga
Faktor keluarga sangat berperan
aktif bagi siswa. Dalam buku Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya
menyatakan bahwa siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa
: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, keadaan keluarga,
pengertian orang tua, keadaan ekonomi keluarga, latar belakang kebudayaan dan
suasana rumah.
1.
Cara orang tua mendidik
Cara orang
tua mendidik besar sekali pengaruhnya terhadap prestasi belajar anak, hal ini
dipertegas oleh Wirowidjojo dalam Slameto mengemukakan bahwa keluarga adalah
lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya
untuk mendidik dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan mutu pendidikan
dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa dan negara.
2.
Relasi antar anggota keluarga
Penting
dalam keluarga adalah relasi orang tua dan anaknya. Selain itu juga relasi anak
dengan saudaranya atau dengan keluarga yang lain turut mempengaruhi belajar
anak. Wujud dari relasi adalah apakah ada kasih sayang atau kebencian, sikap
terlalu keras atau sikap acuh tak acuh, dan sebagainya.
3.
Suasana Rumah
Suasana
rumah juga merupakan faktor yang tidak termasuk disengaja. Suasana rumah yang
gaduh/ ramai dan semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada anak yang
belajar
Berdasarkan
pendapat di atas bahwa suasana rumah tersebut dapat mengganggu belajar anak dan
dapat pula memberi pengaruh yang negative bagi anak. Agar anak nyaman dan
tenang saat belajar, selanjutnya keluarga diaharapkan dapat menciptakan suasana
yang tenang dan tentram agar anak dapat belajar dengan baik.
4.
Pengertian orang tua
Belajar
perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan
diganggu dengan tugas-tugas rumah. Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat,
orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya sedapat mungkin untuk
mengatasi kesulitan yang dialaminya.
5.
Keadaan ekonomi keluarga
keadaan
ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar
selain terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya makanan, pakaian, perlindungan
kesehatan, dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang
belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, dan sebagainya.
6.
Latar belakang kebudayaan
Tingkat
pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam
belajar. Oleh karena itu perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan baik,
agar mendorong tercapainya hasil belajar yang optimal.
B.
Faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi
belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa,
relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah,
standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.
C. Faktor Lingkungan Masyarakat
Faktor lain yang datang dari luar
diri siswa yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa adalah Masyarakat.
Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa didalam masyarakat. Dalam
lingkungan masyarakat yang menjadi pembahasannya adalah tentang kegiatan siswa
didalam masyarakat, mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat,
yang semuanya mempengaruhi belajar
Di samping itu pemenuhan kebutuhan
psikologis Secara umum diketahui bahwa dalam perkembangan anak perlu dipenuhi
berbagai kebutuhan, yaitu kebutuhan primer, pangan, sandang, dan perumahan
serta kasih sayang, perhatian, penghargaan terhadap dirinya dan peluang
mengaktualisasikan dirinya. Pemenuhan kebutuhan dalam perkembangan ini banyak
tergantung dari lingkungannya berinteraksi dengan dirinya. Sebagaimana
organisme ditentukan secara alamiah oleh sifat-sifat keturunan dan ciri-ciri
yang unik yang dibawa sejak lahir, keturunan dan ciri-ciri yang unik yang
dibawa sejak lahir, perkembangan organisme itu juga ditentukan oleh cara-cara lingkungan
berinteraksi dengan individu, yaitu melalui pendekatan yang sifatnya memberikan
perhatian, kasih sayang dan peluang mengaktualisasikan diri. Menurut Semiawan,
jika kewajiban sekolah untuk sebaik mungkin mempersiapkan anak didik dengan
bekal yang mencukupi menghadapi tantangan masa depan, maka setiap orang tua
bertugas untuk dalam proses pendidikan itu membantu mengembangkan potensi anak
didiknya. Banyak tergantung dari suasana pendidikan lingkungan yang bersumber
dari iklim pergaulan anatara orang tua dan anak, bagaimana tugas tersebut
diwujudkannya. Pendidikan secara potensial berakar dari pergaulan biasa,
khususnya antara orang tua dan anak didik. Jadi setiap pergaulan tersebut
adalah suatu lapangan yang memiliki kemungkinan kesiapan untuk berubah menjadi
situasi pendidikan dimana mendidik dilandasi oleh nilai moral tertentu dan
mengacu pada perwujudan potensi bakat tertentu, yaitu suatu tindakan untuk
memenuhi tuntutan kebutuhan psikologis (2007 : 40). Intelegensi, emosi, dan
motivasi Prestasi belajar, kita ketahui semua, bukan saja dipengaruhi oleh
kemampuan intelektual yang bersifat kognitif, tetapi juga dipengaruhi oleh
faktor-faktor non kognitif seperti emosi, motivasi, kepribadian serta juga
berbagai pengaruh lingkungan.
Pengembangan potensi anak mencapai
aktualitasi optimal bukan saja dipengaruhi faktor bakat, melainkan juga faktor
lingkungan yang membimbing dan membentuk perkembangan anak. Perkembangan
seluruh kepribadiannya selain dilatar belakangi kedua faktor tersebut diatas
juga terkait dengan kemampuan intelektual, motivasi, pengetahuan, dan konsep
dirinya. Memang keberhasilan belajarnya sangat ditentukan antara lain oleh
kemampuan kognitif, tetapi ternyata bahwa faktor nonkognitif (yaitu antara lain
motivasi, emosi) tidak kalah penting, bahkan mempengaruhi tingkat kineija serta
lingkungan, maupun perkembangan dirinya sendiri
B. Faktor Kenakalan Remaja
Penyebab kenakalan sebenarnya sangat
kompleks baik dari faktor internal maupun dari faktor eksternal. Menurut
Depdiknas dari faktor internal biasanya pada umur yang dihubungkan bergejolak
itu didalam diri mereka teijadi perubahan- perubahan phisikologis (2000 : 31).
Hal ini membuat kerisauan dan kegoncangan yang biasa membuat segala sesuatu
dengan cara pelampiasan yang bersifat negatif. Untuk itu perlulah pengarahan
dari orang tua, guru, dan orang-orang disekitar lingkungan. Dari faktor
eksternal yaitu pembaharuan nilai-nilai kehidupan dimasyarakat, contohnya nilai
dalam kebudayaan kita beragam telah direbut dengan nilai budaya yang bersifat
negatif. Kebanyakan budaya tersebut datangnya dari budaya asing atau budaya
luar yang sudah membaur dikalanganremaja tanpa diseleksi dulu oleh remaja,
manabudaya yang bersifat positif, dan mana budaya yang bersifat negatif.
Faktor yang melatar belakangi kenakalan remaja adalah
:
1. Bersumber dari kenakalan remaja itu sendiri.
2. Kekurangan dalam pembentukan hati nurani.
3. Kegagalan prestasi sekolah atau dalam pergaulan.
4. Masalah ekonomi yang kurang memadai.
Faktor Lingkungan Lingkungan merupakan
suatu tempat tinggal yang terdiri dari kumpulan- kumpulan beberapa keluarga.
Menurut Gerungan, Kesengsaraan dalam kesadaran moral semua anggota masyarakat
tidak dimungkinkan karena setiap individu berbeda satu dari yang lain, misalnya
dipengaruhi oleh berbagai faktor keturunan, lingkungan fisik, danlingkungan
sosial yang berbeda. Pada saat ini lingkungan keluarga merupakan faktor utama
dalam menghadapi anak remaja yang sedang bergejolak. Apabila orang tua kurang
memperhatikan dan kurang memberi arahan serta pengawasan kepada anak. Ini akan
mengakibatkan ikatan orang tua terhadap si anak akan semakin renggang, sehingga
anak tersebut mencari kesibukan di luar rumah (2000 : 79). Ditambah lagi
kurangnya komunikasi antara anak dengan orang tua yang mengakibatkan orang tua
akan ketinggalan informasi tentang keadaan anak tersebut. Ini disebabkan karena
kesibukan orang tua dalam berbagi aktivitas dalam upaya pemenuhan hidupnya,
sehingga perhatiaan terhadap anak-anaknya menjadi terabaikan. Menurut Kartini
terjadinya kenakalan remaja yang menyebabkan perkelahian serta dapat mengurangi
minat belajar sehingga dapat menurunkan prestasi belajar siswa bersumber dari:
1.
Faktor Internal
a.
Reaksi Frustasi Negatif Merupakan
cara adaptasi yang salah karena semua kebiasaan dan tingkah laku patologis
merupakan akibat permasalahan konflik batin.
b.
Gangguan pengamatan dan tanggapan
pada anak remaja:
·
Gangguan pengamatan dan tanggapan
pada remaja.
·
Gangguan berpikir dan itelegensi
pada diri remaja. Berpikir mutlak perlu bagi remaja agar dapat berpikir secara
cermat dan dapat menyelesaikan masalah.
·
Gangguan perasaan pada anak-anak
remaja. Biasanya perasaan bergandengan dengan pemuasan harapan keinginan dan
kebutuhan manusia jika semua tadi terpuaskan orang akan merasa senang dan
bahagia dan apabila keinginan dan
kebutuhan tidak terpenuhi akan mengalami kekecewaan dan frustasi.
2.
Faktor Eksternal
a.
Broken home atau rumah tangga berantakan.
Bila rumah
tangga terus- menerus dipenuhi konflik yang serius dan akhirnya mengalami
perceraian maka anaklah yang menjadi korbannya.
b.
Perlindungan yang lebih dari
orangtua. Bila orangtua terlalu banyak melindungi
memanjakan
anaknya serta menghindarkan mereka dari berbagai kesulitan atau ujian hidup
yang kecil, maka anak-anak akan menjadi rapuh dan tidak sanggup belajar
mandiri.
c. Pengaruh
buruk dari orangtua misalnya tingkah laku kriminalitas atau asusila, contohnya
mabuk-mabukkan, berjudi, bertingkah sewenang-wenang dan sebagainya. Dari
orangtuaatau bisa memberikan pengaruh menular kepada si anak.
C. Upaya Penanggulangan Kenakalan
Remaja
Istilah penanggulan remaja bukan berarti Menyudutkan
atau menyalahkan remaja akan tetapi penanggulangan dalam hal ini berarti
berusaha menciptakan, membuat program-program atau usaha-usaha dengan
antisipasi yang baik, sehingga kenakalan remaja tidak semakin bertambah dalam
jenis dan frekwensinya yang dapat menembus pada generasi berikutnya. Dalam
menciptakan usaha-usaha penanggulangan kenakalan-kenakalan remaja kita
dihadapkan pada masalah yang sangat luas serta kompleks, karena masa remaja
merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Anak remaja merasa bukan kanak-kanak lagi akan tetapi belum mampu memegang
tugas sebagai orang dewasa. Masa kanak-kanak adalah yang penuh dengan
ketergantungan, sedangkan masa dewasa adalah masa hidup tidak tergantung pada
siapapun. Karena itu anak remaja hidup diantara rasa ketergantungan dengan masa
ketidaktergantungan. Hal ini menyebabkan tingkah lakunya labil tidak mampu
menyesuaikan diri secara sempurna terhadap lingkungannya karena lingkungan
sangat mempengaruhi sikap dan tingkah laku sebagai manusia yang masih dalam
pertumbuhan menuju usia dewasa. Para remaja mulai menelusuri tentang
kehidupannya dan diajar oleh pengalamannya masing-masing. Maka jelas bagi kita
bahwa kenakalan remaja bagaimanapun akan berakibat negatif buruk bagi
masyarakat maupun bagi diri sendiri. Sebagaimana manusia anak remaja mempunyai
kebutuhan yang menuntut untuk dipenuhi dan merupakan sumber timbulnya problema
didalam dirinya terutama dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
Problema tersebut ada yang dapat dipecahkan sendiri. Ada juga yang sulit
dipecahkan. Dalam hal ini memerlukan bantuan kaum pendidik agar tercapai
kesejahteraan dan juga bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, betapa
pentingnya rumah tangga atau keluarga bagi kehidupan seorang anak dalam
membentuk pribadinya Dari kutipan tersebut mencerminkan bahwa keluarga yang
baik merupakan tempat pendidikan yang baik pula bagi anak. Salah kunci dari
pendidikan yang baik adalah memberitahu mana yang boleh dan mana yang tidak
boleh dan pada waktu mana harus dilarang serta cara-cara untuk melarang.
Didalam pembentukan pembentukan
kepribadian anak, tingkah laku, dan pergaulan serta kerukunan orangtua selalu
dijadikan perhatian dan teladan bagi si anak. Adapun keadaan keluarga
menjadikan sebab timbulnya kenakalan remaja dikarenakan berupa yang tidak
normal atau broken home (2001:52). Menurut Wijaya mengemukakan keluarga yang
kurang harmonis atau broken home terjadinya perceraian pada orangtua dapat
menyebabkan kenakalan remaja. Karena tidak pernah mendapat bimbingan di dalam
keluarga (2002 : 107). Pengaruh kehidupan sehari-hari terhadap perkembangan
jiwa anak dan sikap mereka terhadap sekelilingnya. Sikap saling menghargai dan
saling tolong-menolong sangat penting penting dibina dalam keluarga. Orangtua
mempunyai kehidupan terhadap anak-anaknya begitu pula anak mempunyai tanggung
jawab yang harus mereka laksanakan di dalam keluarga. Cinta kasih dan saling
mengasihi adalah landasan yang penting agar diperoleh ketentraman batin. Dari
uraian tersebut dapatlah dilihat bahwa sikap yang bersifat presentasi yang
dapat diberikan orang tua seperti:
1. Menanamkan rasa disiplin terhadap
anak.
2. Memberikan pengawasan dan
perlindungan terhadap anak.
3. Pencurian kasih sayang orang tua
terhadap anak.
4. Menjaga agar tetap terjalin suatu
ikatan yang harmonis di dalam keluarga.
Asnawati Matondang: Hubungan
Kenakalan Remaja dengan Prestasi Belajar Siswa 37 B. Suryo mengatakan Anak
Remaja yang menjadi nakal karena keadaan keluarga sekolah dan lingkungan
masyarakat pada umumnya. Sering melakukan perbuatan yang meresahkan masyarakat.
Ditinjau dari segi penyebabnya, masyarakat juga bertanggung jawab dipandangnya
sebagai masalah yang tersebut dari menimpanya kelompok umur tertentu, akan
tetapi dinilai sebagai problem sosiai yang muncul dari perubahan masyarakat
secara global (2002 : 51 ). Memang sulit untuk menemukan cara yang terbaik
didalam menanggulangi kenakalan remaja, maka masyarakat dan pemerintah dipaksa
untuk melakukan tindakan preventif dan penanggulangan secara kultural melalui
bimbingan kerohanian dan pendidikan.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kenakalan remaja bukan saja berasal
dari faktor internal tetapi juga fakta internal, prestasi belajar siswa
dipengaruhi faktor bakat melainkan juga faktor lingkungan yang membimbing dan
membentuperkembangan anak.
Keberhasilan belajar peserta didik disekolah
dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern
adalah faktor yang ada dalam diri peserta didik dan faktor ektern adalah faktor
yang ada dari luar diri peserta didik.
Sikap saling menghargai dan saling
tolong-menolong sangat penting penting dibina dalam keluarga. Orangtua
mempunyai kehidupan terhadap anak-anaknya begitu pula anak mempunyai tanggung
jawab yang harus mereka laksanakan di dalam keluarga. Cinta kasih dan saling
mengasihi adalah landasan yang penting agar diperoleh ketentraman batin. Dari
uraian tersebut dapatlah dilihat bahwa sikap yang bersifat presentasi yang
dapat diberikan orang tua seperti:
1. Menanamkan rasa disiplin terhadap
anak.
2. Memberikan pengawasan dan
perlindungan terhadap anak.
3. Pencurian kasih sayang orang tua
terhadap anak.
4. Menjaga agar tetap terjalin suatu ikatan yang
harmonis di dalam keluarga.
B.
Saran
Hendaknya orangtua memberikan
perhatian yang lebih terhadap kegiatan si anak, terutama dalam kegiatan
belajar. Perlu ditingkatkan pelajaran iman dan keluarga agar si anak (siswa) dapat lebih terpimpin dan
mempunyai moral dan etika yang baik dilingkungan keluarga dan masyarakat,
kiranya para pengelola sekolah tidak segan- segan memberikan tindakan tegas
terhadap siswa remaja yang nakal dan melanggar peraturan sekolah agar perbuatan
serupa tidak terulang dan dilakukan oleh orang lain.
Ditinjau dari segi penyebabnya,
masyarakat juga bertanggung jawab dipandangnya sebagai masalah yang tersebut
dari menimpanya kelompok umur tertentu, akan tetapi dinilai sebagai problem
sosiai yang muncul dari perubahan masyarakat secara global (2002 : 51 ). Memang
sulit untuk menemukan cara yang terbaik didalam menanggulangi kenakalan remaja,
maka masyarakat dan pemerintah dipaksa untuk melakukan tindakan preventif dan
penanggulangan secara kultural melalui bimbingan kerohanian dan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
B. Suryo
Subaroto. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta. Departemen Pendidikan
Nasional. 2000. Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda. Jakarta :
Dirjen Olah Raga dan Pemuda. Gerangan, W.A. 2000. Psikologi Sosial. Cetakan ke
- VII. Bandung - Jakarta : Erosco.
Hurlock, Elizabet. B.2001.
Kartono, K. 1992.
Patologi Sosial II Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawal
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Generasi muda sebagai penerus cita -
cita perjuangan bangsa dan merupakan sumber insan bagi pembangunan. Jadi perlu
ditingkatkan pembinaan dan pengembangannya karena generasi muda merupakan
tanggung jawab bersama antara orang tua, keluarga,masyarakat, dan pemerintah
serta ditujukan untuk meningkatkan kualitas generasi muda. Dalam rangka
pembinaan generasi muda, banyak cara yang telah dilakukan dari kalangan pemuka
masyarakat, para guru dan pihak aparat kepolisian. Keberhasilan dari pembinaan
tersebut masih jauh dari apa yang diharapkan. Hal-tersebut terbukti dari
perilaku remaja yang besifat negatif seperti perkelahian, pencurian, cabut
sekolah, merokok dan mengkonsumsi narkoba. Hal ini dapat mengaburkan masa depan
bangsa. Untuk menanggulangi masalah remaja diperlukan berbagai pemikiran dari
berbagai sudut pandang dari masyarakat maupun pemerintah.
Menurut Soerjono : Pada umumnya
remaja melakukan kenakalannya dari keluarga broken home yang dapat mempengaruhi
perkembangan dari anak tersebut. Maksud dari kata broken home adalah kedua
orang tua masih utuh akan tetapi selalu sibuk urusan masing - masing sehingga
tugas terhadap anaknya menjadi, terabaikan. Apabila anak tidak mendapatkan
perhatian dari kedua orangtuanya, serta hubungan antara orang tua dengan anak
yang menjadi renggang tentu akan mengakibatkan anak tersebut akan kehilangan
kontrol sehingga anak dalam keluarga mulai keluar rumah dan mulai mencari
kesenangan sendiri, mulai berbohong untuk mencari perhatian orang tuanya dan
menghalalkan segala cara untuk mendapat keinginannya Kenakalan dilakukan
merupakan pelampiasan ketegangan, kerisauan di dalam hatinya sehingga remaja
merasa tidak bahagia karena dipenuhi anak tersebut malas sekolah dan tidak
konsentrasi dalam belajar sehingga prestasi menjadi menurun. Dari pemikiran
diatas dapat disimpulkan bahwabimbingan dan pengawasan orang tua sangatlah
penting terhadap pencegahan kenakalan remaja selain itu keluarga dan peranan
masyarakat juga sangat di butuhkan, hal ini yang melatar belakangi penulis
untuk menyusun karya tulis ilmiah dengan judul: “Pengaruh Kenakalan remaja Dengan
Prestasi Belajar.”
B.
Rumusan
masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di atas, maka
timbul beberapa pokok masalah dalam penulisan karya ilmiah ini, antara lain
sebagai berikut:
A.
Apa saja faktor – faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar siswa?
B.
Apa saja Faktor – faktor kenakalan
remaja?
C.
Bagaimana upaya penanggulanan
kenakalan remaja dalam mempengaruhi prestasi belajar siswa?
D.
Tujuan
A.
Untuk mengetahui Apa saja faktor –
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa.
B.
Untuk mengetahui Apa saja Faktor – faktor
kenakalan remaja.
C.
Untuk mengetahui Bagaimana
upaya penanggulanan kenakalan remaja dalam mempengaruhi prestasi belajar siswa.
BAB II
LANDASAN
TEORI
A.
Pengertian
Prestasi Belajar Siswa
Menurut Poerwadaminta dinyatakan bahwa "Prestasi
adalah hasil yang dicapai. Prestasi merupakan sesuatu yang sudah didapat atau
sesuatu yang sudah dikuasai". Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
prestasi belajar sering dinyatakan dalam bentuk angka yang menunjukkan tingkat
pemahaman seseorang mengenai bahan pelajaran yang telah dipelajari Seperti yang
dikemukakan oleh Nasution menyatakan bahwa "Prestasi belajar adalah suatu
bukti keberhasilan atau kemampuan seorang siswa dalam melalakukan kegiatan
belajarnya sesuai bobot yang dicapai. Dalam memperoleh hasil belajar yang baik
minat juga sangat menentukan seorang siswa berhasil atau tidak dalam
belajarnya. Menurut Poerbakawatja menyatakan, "Minat adalah kesediaan jiwa
yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar belajar. Tiap - tiap
pelajaran harus dapat menarik minat dari murid - murid. Minat merupakan kaedah
pokok dalam didaktif " (2003 : 182). Memilih dan menggunakan metode yang
dapat merupakan kewajiban bagi seorang guru untuk mengetahui bagaimana cara
menyusun strategi belajar mengajar yang baik sesuai dengan materi belajar yang
akan dibahasnya. Ahmadai mengatakan "Masalah mengenai bagaimana cara yang
paling baik menyajikan materi pelajaran agar dapat diterima dengan mudah dan
baik oleh siswa merupakan ruang lingkup metodologi mengajar. Seperti yang di
kemukakan oleh Nasution menyatakan bahwa " Prestasi belajar adalah suatu
bukti keberhasilan atau kemampuan seorang siswa dalam melakukan kegiatan
belajarnya sesuai bobot yang dicapai . Dalam memperoleh hasil belajar yang baik
minat juga sangat menentukan seorang siswa berhasil belajar atau tidak dalam
belajarnya. Menurut Poerbakawatja, menyatakan, " Minat adalah kesediaan
jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar belajar. Tiap-tiap
pelajaran harus dapat menarik minat dari murid- murid. Minat merupakan kaedah
pokok dalam didaktif .Memilih dan menggunakan metode yang tepat merupakan
kewajiban bagi seorang guru untuk mengetahui bagaiman cara menyusun startegi
belajar mengajar yang baik sesuai dengan materi belajar yang akan dibahasnya.
Ahmadi mengatakan, "Masalah mengenai bagaimana cara yang paling baik
menyajikan materi pelajaran agar dapat diterima dengan mudah dan baik oleh
siswa merupakan ruang lingkup metodologi mengajar Hal ini sesuai dengan
pendapat Rusyan yang mengatakan, "Menetapkan suasana belajar peserta
didik, mengoptimalkan hasil belajar, memberi contoh-contoh baik, menjelaskan
tujuan yang nyata, menginformasikan hasil-hasil dicapai peserta didik.
B.
Definisi
Remaja
Menurut Sayogyo istilah remaja berasal dari bahasa
latin yaitu adolescore yang artinya tumbuh dewasa. Secara psikologis, masa
remaja adalah usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang - orang
yang lebih tua melainkan berada dalam masalah hak. Usia remaja Asnawati
Matondang: Hubungan Kenakalan Remaja dengan Prestasi Belajar Siswa 34
berlangsung dari usia 13 tahun, akhir remaja sampai usia 17 tahun atau 18 tahun
usia matang secara hukum . Pemahaman mengenai "remaja" dikemukakan
oleh Hurlock dalam rentangan kehidupan dalam sebagai berikut:
1.
Prenatal yaitu saat konsepsi sampai
lahir
2.
Masa Neunatal yaitu lahir sampai
akhir minggu kedua sampai setelah lahir.
3.
Masa bayi yaitu akhir minggu kedua sampai tahun
kedua.
4.
Masa kanak-kanak awal yaitu dua tahun sampai
enam tahun.
5.
Masa kanak-kanak akhir yaitu enam
tahun sampai sepuluh tahun atau sepuluh
tahun atau sebelas tahun.
6.
Masa pubertas yaitu sepuluh tahun
sampai enam belas tahun.
7.
Masa remaja akhir yaitu tujuh belas
sampai dua puluh satu tahun.
8.
Masa dewasa awal yaitu dua puluh satu tahun
sampai empat puluh tahun.
9.
Masa setengah baya yaitu empat puluh satu
tahun sampai enam puluh tahun.
10. Masa tua
yaitu enam puluh sampai meninggal dunia.
Menurut Koentjaningrat "Remaja adalah usia
transisi, seorang individu telah meninggalkan usia yang lemah dan penuh
ketergantungan akan tetapi belum mampu keusia yang penuh tanggung jawab. Jika
seorang anak masih berada dalam fase-fase usia remaja kemudian melakukan pelanggaran
terhadap norma-norma agama, maka perbuatan anak tersebut digolongkan kenakalan
remaja Menurut Kartini kenakalan remaja yang dilakukan oleh remaja dan murid
disekolah lanjutan maupun mereka yang sudah putus sekolah dapat dilihat dengan
gejala:
1. Keluyuran,
pergi sendiri, maupun berkelompok tanpa tujuan dan mudah menimbulkan perbuatan
iseng yang bersifat negatif.
2. Membolos, pergi meninggalkan sekolah tanpa
sepengetahuan pihak sekolah
3. Berbohong,
memutar balikkan kenyataan dengan tujuan menipu orang ataupun menutup
kesalahan.
4. Kabur,
meninggalkan rumah tanpa izin orang tua.
5. Bergaul
dengan teman yang memberikan pengaruh buruk sehingga murah terjerat dalam
perkara yng bersifat crimi
Berdasarkan
pembatasan tersebut dapat kita lihat bahwa antara kenakalan remaja dengan
kejahatan seolah-olah tidak ada garis pemisah mana yang dikatakan kenakalan dan
mana yang disebut kejahatan. Namun menurut Mappiare secara definitif kenakalan
remaja itu diartikan semua perbuatannya melawan hukum dan bertentangan dengan
norma-norma baik norma agama adat istiadat ataupun hal-hal yang sudah menjadi
kebiasaan di dalam masyarakat.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Faktor –
Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa
Keberhasilan belajar peserta didik disekolah
dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern
adalah faktor yang ada dalam diri peserta didik dan faktor ektern adalah faktor
yang ada dari luar diri peserta didik.
a.
Faktor Intern
Dalam membicarakan faktor intern
ini, akan dibahas menjadi tiga faktor yaitu faktor jasmani, faktor psikologi
dan faktor kelelahan.
a.
Faktor Jasmani
Dalam faktor
jasmaniah yang dapat mempengaruhi siswa dalam proses belajarnya adalah
kesehatan tentang kondisi tubuhnya, kurang bersemangat ataupun cepat lelah,
selain kondisi kesehatannya keadaan jasmaniah siswa yang juga mempengaruhi
proses belajarnya adalah cacat anggota tubuh misalnya buta, tuli, patah kaki
ataupun patah tangan.
b.
Faktor psikologis
Ada beberapa
faktor yang tergolong dalam faktor psikologis. Faktor-faktor tersebut antara
lain :
1.
Intelegensi
intelegensi
atau kecakapan terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan
menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dan cepat efektif
mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui
relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
2.
Perhatian
perhatian
adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa itupun bertujuan semata-mata kepada
suatu benda atau hal atau sekumpulan obyek. Untuk menjamin belajar yang lebih
baik maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya.
Jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan,
sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa belajar dengan baik, usahakan
buku pelajaran itu sesuai dengan hobi dan bakatnya.
3.
Bakat
Menurut
Hilgard dalam Slameto bahwa bakat adalah the capacity to learn. Dengan kata
lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi
pencapaian kecakapan yang nyata sesudah belajar atau terlatih.
4.
Motif
motivasi
erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai dalam belajar, di dalam
menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai
tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah
motivasi itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya.
5.
Kematangan
kematangan
adalah sesuatu tingkah atau fase dalam pertumbuhan seseorang di mana alat-alat
tubuhnya sudah siap melaksanakan kecakapan baru.
Berdasarkan
pendapat di atas, maka kematangan adalah suatu organ atau alat tubuhnya dikatakan
sudah matang apabila dalam diri makhluk telah mencapai kesanggupan untuk
menjalankan fungsinya masing-masing kematang itu datang atau tiba waktunya
dengan sendirinya, sehingga dalam belajarnya akan lebih berhasil jika anak itu
sudah siap atau matang untuk mengkuti proses belajar mengajar.
6.
Kesiapan
Kesiapan
menurut James Drever seperti yang dikutip adalah preparedes to respon or react,
artinya kesediaan untuk memberikan respon atau reaksi.
Jadi, dari
pendapat di atas dapat diasumsikan bahwa kesiapan siswa dalam proses belajar
mengajar, sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa, dengan demikian prestasi
belajar siswa dapat berdampak positif bilamana siswa itu sendiri mempunyai
kesiapan dalam menerima suatu mata pelajaran dengan baik.
c.
Faktor Kelelahan
Ada beberapa
faktor kelelahan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan
rohani. Sebagaimana dikemukakan oleh Slameto sebagai berikut:
“Kelelahan
jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecendrungan untuk
membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena ada substansi sisa
pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah kurang lancar pada bagian tertentu.
Sedangkan kelelahan rohani dapat terus menerus karena memikirkan masalah yang
berarti tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu karena terpaksa, tidak sesuai
dengan minat dan perhatian”.
b.
Faktor Ekstern
Faktor ekstern yang berpengaruh
terhadap prestasi belajar dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu
faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.
A. Faktor keluarga
Faktor keluarga sangat berperan
aktif bagi siswa. Dalam buku Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya
menyatakan bahwa siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa
: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, keadaan keluarga,
pengertian orang tua, keadaan ekonomi keluarga, latar belakang kebudayaan dan
suasana rumah.
1.
Cara orang tua mendidik
Cara orang
tua mendidik besar sekali pengaruhnya terhadap prestasi belajar anak, hal ini
dipertegas oleh Wirowidjojo dalam Slameto mengemukakan bahwa keluarga adalah
lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya
untuk mendidik dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan mutu pendidikan
dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa dan negara.
2.
Relasi antar anggota keluarga
Penting
dalam keluarga adalah relasi orang tua dan anaknya. Selain itu juga relasi anak
dengan saudaranya atau dengan keluarga yang lain turut mempengaruhi belajar
anak. Wujud dari relasi adalah apakah ada kasih sayang atau kebencian, sikap
terlalu keras atau sikap acuh tak acuh, dan sebagainya.
3.
Suasana Rumah
Suasana
rumah juga merupakan faktor yang tidak termasuk disengaja. Suasana rumah yang
gaduh/ ramai dan semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada anak yang
belajar
Berdasarkan
pendapat di atas bahwa suasana rumah tersebut dapat mengganggu belajar anak dan
dapat pula memberi pengaruh yang negative bagi anak. Agar anak nyaman dan
tenang saat belajar, selanjutnya keluarga diaharapkan dapat menciptakan suasana
yang tenang dan tentram agar anak dapat belajar dengan baik.
4.
Pengertian orang tua
Belajar
perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan
diganggu dengan tugas-tugas rumah. Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat,
orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya sedapat mungkin untuk
mengatasi kesulitan yang dialaminya.
5.
Keadaan ekonomi keluarga
keadaan
ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar
selain terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya makanan, pakaian, perlindungan
kesehatan, dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang
belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, dan sebagainya.
6.
Latar belakang kebudayaan
Tingkat
pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam
belajar. Oleh karena itu perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan baik,
agar mendorong tercapainya hasil belajar yang optimal.
B.
Faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi
belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa,
relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah,
standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.
C. Faktor Lingkungan Masyarakat
Faktor lain yang datang dari luar
diri siswa yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa adalah Masyarakat.
Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa didalam masyarakat. Dalam
lingkungan masyarakat yang menjadi pembahasannya adalah tentang kegiatan siswa
didalam masyarakat, mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat,
yang semuanya mempengaruhi belajar
Di samping itu pemenuhan kebutuhan
psikologis Secara umum diketahui bahwa dalam perkembangan anak perlu dipenuhi
berbagai kebutuhan, yaitu kebutuhan primer, pangan, sandang, dan perumahan
serta kasih sayang, perhatian, penghargaan terhadap dirinya dan peluang
mengaktualisasikan dirinya. Pemenuhan kebutuhan dalam perkembangan ini banyak
tergantung dari lingkungannya berinteraksi dengan dirinya. Sebagaimana
organisme ditentukan secara alamiah oleh sifat-sifat keturunan dan ciri-ciri
yang unik yang dibawa sejak lahir, keturunan dan ciri-ciri yang unik yang
dibawa sejak lahir, perkembangan organisme itu juga ditentukan oleh cara-cara lingkungan
berinteraksi dengan individu, yaitu melalui pendekatan yang sifatnya memberikan
perhatian, kasih sayang dan peluang mengaktualisasikan diri. Menurut Semiawan,
jika kewajiban sekolah untuk sebaik mungkin mempersiapkan anak didik dengan
bekal yang mencukupi menghadapi tantangan masa depan, maka setiap orang tua
bertugas untuk dalam proses pendidikan itu membantu mengembangkan potensi anak
didiknya. Banyak tergantung dari suasana pendidikan lingkungan yang bersumber
dari iklim pergaulan anatara orang tua dan anak, bagaimana tugas tersebut
diwujudkannya. Pendidikan secara potensial berakar dari pergaulan biasa,
khususnya antara orang tua dan anak didik. Jadi setiap pergaulan tersebut
adalah suatu lapangan yang memiliki kemungkinan kesiapan untuk berubah menjadi
situasi pendidikan dimana mendidik dilandasi oleh nilai moral tertentu dan
mengacu pada perwujudan potensi bakat tertentu, yaitu suatu tindakan untuk
memenuhi tuntutan kebutuhan psikologis (2007 : 40). Intelegensi, emosi, dan
motivasi Prestasi belajar, kita ketahui semua, bukan saja dipengaruhi oleh
kemampuan intelektual yang bersifat kognitif, tetapi juga dipengaruhi oleh
faktor-faktor non kognitif seperti emosi, motivasi, kepribadian serta juga
berbagai pengaruh lingkungan.
Pengembangan potensi anak mencapai
aktualitasi optimal bukan saja dipengaruhi faktor bakat, melainkan juga faktor
lingkungan yang membimbing dan membentuk perkembangan anak. Perkembangan
seluruh kepribadiannya selain dilatar belakangi kedua faktor tersebut diatas
juga terkait dengan kemampuan intelektual, motivasi, pengetahuan, dan konsep
dirinya. Memang keberhasilan belajarnya sangat ditentukan antara lain oleh
kemampuan kognitif, tetapi ternyata bahwa faktor nonkognitif (yaitu antara lain
motivasi, emosi) tidak kalah penting, bahkan mempengaruhi tingkat kineija serta
lingkungan, maupun perkembangan dirinya sendiri
B. Faktor Kenakalan Remaja
Penyebab kenakalan sebenarnya sangat
kompleks baik dari faktor internal maupun dari faktor eksternal. Menurut
Depdiknas dari faktor internal biasanya pada umur yang dihubungkan bergejolak
itu didalam diri mereka teijadi perubahan- perubahan phisikologis (2000 : 31).
Hal ini membuat kerisauan dan kegoncangan yang biasa membuat segala sesuatu
dengan cara pelampiasan yang bersifat negatif. Untuk itu perlulah pengarahan
dari orang tua, guru, dan orang-orang disekitar lingkungan. Dari faktor
eksternal yaitu pembaharuan nilai-nilai kehidupan dimasyarakat, contohnya nilai
dalam kebudayaan kita beragam telah direbut dengan nilai budaya yang bersifat
negatif. Kebanyakan budaya tersebut datangnya dari budaya asing atau budaya
luar yang sudah membaur dikalanganremaja tanpa diseleksi dulu oleh remaja,
manabudaya yang bersifat positif, dan mana budaya yang bersifat negatif.
Faktor yang melatar belakangi kenakalan remaja adalah
:
1. Bersumber dari kenakalan remaja itu sendiri.
2. Kekurangan dalam pembentukan hati nurani.
3. Kegagalan prestasi sekolah atau dalam pergaulan.
4. Masalah ekonomi yang kurang memadai.
Faktor Lingkungan Lingkungan merupakan
suatu tempat tinggal yang terdiri dari kumpulan- kumpulan beberapa keluarga.
Menurut Gerungan, Kesengsaraan dalam kesadaran moral semua anggota masyarakat
tidak dimungkinkan karena setiap individu berbeda satu dari yang lain, misalnya
dipengaruhi oleh berbagai faktor keturunan, lingkungan fisik, danlingkungan
sosial yang berbeda. Pada saat ini lingkungan keluarga merupakan faktor utama
dalam menghadapi anak remaja yang sedang bergejolak. Apabila orang tua kurang
memperhatikan dan kurang memberi arahan serta pengawasan kepada anak. Ini akan
mengakibatkan ikatan orang tua terhadap si anak akan semakin renggang, sehingga
anak tersebut mencari kesibukan di luar rumah (2000 : 79). Ditambah lagi
kurangnya komunikasi antara anak dengan orang tua yang mengakibatkan orang tua
akan ketinggalan informasi tentang keadaan anak tersebut. Ini disebabkan karena
kesibukan orang tua dalam berbagi aktivitas dalam upaya pemenuhan hidupnya,
sehingga perhatiaan terhadap anak-anaknya menjadi terabaikan. Menurut Kartini
terjadinya kenakalan remaja yang menyebabkan perkelahian serta dapat mengurangi
minat belajar sehingga dapat menurunkan prestasi belajar siswa bersumber dari:
1.
Faktor Internal
a.
Reaksi Frustasi Negatif Merupakan
cara adaptasi yang salah karena semua kebiasaan dan tingkah laku patologis
merupakan akibat permasalahan konflik batin.
b.
Gangguan pengamatan dan tanggapan
pada anak remaja:
·
Gangguan pengamatan dan tanggapan
pada remaja.
·
Gangguan berpikir dan itelegensi
pada diri remaja. Berpikir mutlak perlu bagi remaja agar dapat berpikir secara
cermat dan dapat menyelesaikan masalah.
·
Gangguan perasaan pada anak-anak
remaja. Biasanya perasaan bergandengan dengan pemuasan harapan keinginan dan
kebutuhan manusia jika semua tadi terpuaskan orang akan merasa senang dan
bahagia dan apabila keinginan dan
kebutuhan tidak terpenuhi akan mengalami kekecewaan dan frustasi.
2.
Faktor Eksternal
a.
Broken home atau rumah tangga berantakan.
Bila rumah
tangga terus- menerus dipenuhi konflik yang serius dan akhirnya mengalami
perceraian maka anaklah yang menjadi korbannya.
b.
Perlindungan yang lebih dari
orangtua. Bila orangtua terlalu banyak melindungi
memanjakan
anaknya serta menghindarkan mereka dari berbagai kesulitan atau ujian hidup
yang kecil, maka anak-anak akan menjadi rapuh dan tidak sanggup belajar
mandiri.
c. Pengaruh
buruk dari orangtua misalnya tingkah laku kriminalitas atau asusila, contohnya
mabuk-mabukkan, berjudi, bertingkah sewenang-wenang dan sebagainya. Dari
orangtuaatau bisa memberikan pengaruh menular kepada si anak.
C. Upaya Penanggulangan Kenakalan
Remaja
Istilah penanggulan remaja bukan berarti Menyudutkan
atau menyalahkan remaja akan tetapi penanggulangan dalam hal ini berarti
berusaha menciptakan, membuat program-program atau usaha-usaha dengan
antisipasi yang baik, sehingga kenakalan remaja tidak semakin bertambah dalam
jenis dan frekwensinya yang dapat menembus pada generasi berikutnya. Dalam
menciptakan usaha-usaha penanggulangan kenakalan-kenakalan remaja kita
dihadapkan pada masalah yang sangat luas serta kompleks, karena masa remaja
merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Anak remaja merasa bukan kanak-kanak lagi akan tetapi belum mampu memegang
tugas sebagai orang dewasa. Masa kanak-kanak adalah yang penuh dengan
ketergantungan, sedangkan masa dewasa adalah masa hidup tidak tergantung pada
siapapun. Karena itu anak remaja hidup diantara rasa ketergantungan dengan masa
ketidaktergantungan. Hal ini menyebabkan tingkah lakunya labil tidak mampu
menyesuaikan diri secara sempurna terhadap lingkungannya karena lingkungan
sangat mempengaruhi sikap dan tingkah laku sebagai manusia yang masih dalam
pertumbuhan menuju usia dewasa. Para remaja mulai menelusuri tentang
kehidupannya dan diajar oleh pengalamannya masing-masing. Maka jelas bagi kita
bahwa kenakalan remaja bagaimanapun akan berakibat negatif buruk bagi
masyarakat maupun bagi diri sendiri. Sebagaimana manusia anak remaja mempunyai
kebutuhan yang menuntut untuk dipenuhi dan merupakan sumber timbulnya problema
didalam dirinya terutama dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
Problema tersebut ada yang dapat dipecahkan sendiri. Ada juga yang sulit
dipecahkan. Dalam hal ini memerlukan bantuan kaum pendidik agar tercapai
kesejahteraan dan juga bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, betapa
pentingnya rumah tangga atau keluarga bagi kehidupan seorang anak dalam
membentuk pribadinya Dari kutipan tersebut mencerminkan bahwa keluarga yang
baik merupakan tempat pendidikan yang baik pula bagi anak. Salah kunci dari
pendidikan yang baik adalah memberitahu mana yang boleh dan mana yang tidak
boleh dan pada waktu mana harus dilarang serta cara-cara untuk melarang.
Didalam pembentukan pembentukan
kepribadian anak, tingkah laku, dan pergaulan serta kerukunan orangtua selalu
dijadikan perhatian dan teladan bagi si anak. Adapun keadaan keluarga
menjadikan sebab timbulnya kenakalan remaja dikarenakan berupa yang tidak
normal atau broken home (2001:52). Menurut Wijaya mengemukakan keluarga yang
kurang harmonis atau broken home terjadinya perceraian pada orangtua dapat
menyebabkan kenakalan remaja. Karena tidak pernah mendapat bimbingan di dalam
keluarga (2002 : 107). Pengaruh kehidupan sehari-hari terhadap perkembangan
jiwa anak dan sikap mereka terhadap sekelilingnya. Sikap saling menghargai dan
saling tolong-menolong sangat penting penting dibina dalam keluarga. Orangtua
mempunyai kehidupan terhadap anak-anaknya begitu pula anak mempunyai tanggung
jawab yang harus mereka laksanakan di dalam keluarga. Cinta kasih dan saling
mengasihi adalah landasan yang penting agar diperoleh ketentraman batin. Dari
uraian tersebut dapatlah dilihat bahwa sikap yang bersifat presentasi yang
dapat diberikan orang tua seperti:
1. Menanamkan rasa disiplin terhadap
anak.
2. Memberikan pengawasan dan
perlindungan terhadap anak.
3. Pencurian kasih sayang orang tua
terhadap anak.
4. Menjaga agar tetap terjalin suatu
ikatan yang harmonis di dalam keluarga.
Asnawati Matondang: Hubungan
Kenakalan Remaja dengan Prestasi Belajar Siswa 37 B. Suryo mengatakan Anak
Remaja yang menjadi nakal karena keadaan keluarga sekolah dan lingkungan
masyarakat pada umumnya. Sering melakukan perbuatan yang meresahkan masyarakat.
Ditinjau dari segi penyebabnya, masyarakat juga bertanggung jawab dipandangnya
sebagai masalah yang tersebut dari menimpanya kelompok umur tertentu, akan
tetapi dinilai sebagai problem sosiai yang muncul dari perubahan masyarakat
secara global (2002 : 51 ). Memang sulit untuk menemukan cara yang terbaik
didalam menanggulangi kenakalan remaja, maka masyarakat dan pemerintah dipaksa
untuk melakukan tindakan preventif dan penanggulangan secara kultural melalui
bimbingan kerohanian dan pendidikan.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kenakalan remaja bukan saja berasal
dari faktor internal tetapi juga fakta internal, prestasi belajar siswa
dipengaruhi faktor bakat melainkan juga faktor lingkungan yang membimbing dan
membentuperkembangan anak.
Keberhasilan belajar peserta didik disekolah
dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern
adalah faktor yang ada dalam diri peserta didik dan faktor ektern adalah faktor
yang ada dari luar diri peserta didik.
Sikap saling menghargai dan saling
tolong-menolong sangat penting penting dibina dalam keluarga. Orangtua
mempunyai kehidupan terhadap anak-anaknya begitu pula anak mempunyai tanggung
jawab yang harus mereka laksanakan di dalam keluarga. Cinta kasih dan saling
mengasihi adalah landasan yang penting agar diperoleh ketentraman batin. Dari
uraian tersebut dapatlah dilihat bahwa sikap yang bersifat presentasi yang
dapat diberikan orang tua seperti:
1. Menanamkan rasa disiplin terhadap
anak.
2. Memberikan pengawasan dan
perlindungan terhadap anak.
3. Pencurian kasih sayang orang tua
terhadap anak.
4. Menjaga agar tetap terjalin suatu ikatan yang
harmonis di dalam keluarga.
B.
Saran
Hendaknya orangtua memberikan
perhatian yang lebih terhadap kegiatan si anak, terutama dalam kegiatan
belajar. Perlu ditingkatkan pelajaran iman dan keluarga agar si anak (siswa) dapat lebih terpimpin dan
mempunyai moral dan etika yang baik dilingkungan keluarga dan masyarakat,
kiranya para pengelola sekolah tidak segan- segan memberikan tindakan tegas
terhadap siswa remaja yang nakal dan melanggar peraturan sekolah agar perbuatan
serupa tidak terulang dan dilakukan oleh orang lain.
Ditinjau dari segi penyebabnya,
masyarakat juga bertanggung jawab dipandangnya sebagai masalah yang tersebut
dari menimpanya kelompok umur tertentu, akan tetapi dinilai sebagai problem
sosiai yang muncul dari perubahan masyarakat secara global (2002 : 51 ). Memang
sulit untuk menemukan cara yang terbaik didalam menanggulangi kenakalan remaja,
maka masyarakat dan pemerintah dipaksa untuk melakukan tindakan preventif dan
penanggulangan secara kultural melalui bimbingan kerohanian dan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
B. Suryo
Subaroto. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta. Departemen Pendidikan
Nasional. 2000. Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda. Jakarta :
Dirjen Olah Raga dan Pemuda. Gerangan, W.A. 2000. Psikologi Sosial. Cetakan ke
- VII. Bandung - Jakarta : Erosco.
Hurlock, Elizabet. B.2001.
Kartono, K. 1992.
Patologi Sosial II Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawal
Comments
Post a Comment